Kamis, 28 Februari 2013

Another Short Story


Baim
Cerpen Patria Handung Jaya

            Pukul 19.00, aku gelisah. Perasaanku tak karuan membayangkan apa yang akan terjadi 30 menit ke depan. Pikiranku hanya tertuju padanya, sosok yang bahkan belum pernah aku temui. Sejak menjanda 2 tahun lalu, baru kali ini ku beranikan diri berkenalan dengan seorang pria. “Aku sudah di jalan”, tegasnya melalui pesan singkat. Perjalanan Kalasan-Yogyakarta yang hanya 30 menit itu membuat dadaku semakin berdegup kencang.
                                                                                    ***

Sabtu, 04 Februari 2012

AKU MASIH MISKIN

Cerpen Patria Handung Jaya

            Kulihat lagi diriku di cermin, ternyata jilbabku masih miring. Kurapikan lagi jilbabku, kupoles pula wajahku dengan bedak agar terlihat sedikit lebih putih. Semua sudah siap. Cincin emas dan kalung emas putih terjuntai indah menghiasi tubuhku. Tak lupa jam tangan merk terkenal kulingkarkan di tangan kiriku.
“Oh, payung…siapa tahu nanti hujan,” batinku. Malam itu, seperti biasanya rumah tampak sepi. Anak dan menantuku belum pulang. Sedangkan cucuku…ya, namanya anak baru gede masih senang-senangnya mencari jati diri. Hanya ada pembantu di rumah yang sedang asyik ngobrol dengan tukang kebun sebelah rumah.
“Mbak, aku pergi ya,”teriakku dengan suara icempreng
Badhe tindak pundi to bu Joyo?”, suara mbak Minah dengan logat Jowonya yang kental
“Biasa to mbak…aku itu mau kerja”
“Aduh, bu…nanti kalo saya kena marah mas Agil lagi bagaimana? Kemarin saja saya dibentak habis-habisan sama mas Agil gara-gara membiarkan Ibu pergi.
Uwes-uwes…nanti biar aku yang bicara sama anakku, wes yo mbak aku berangkat.”

Minggu, 25 Desember 2011

BANGUNAN SEJARAH SANG BAPAK PENDIDIKAN


     
Cerahnya sinar mentari siang itu senada dengan iring-iringan warna orange yang memadati jalan. Mereka adalah rombongan mahasiswa jurnalistik jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tahun 2009 yang pada siang itu, Sabtu (17/12) akan mengunjungi Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG) yang berlokasi di Jalan Tamansiswa 25 Yogyakarta. Suasana kekeluargaan sangat terasa saat Ki Agus Purwanto, pengelola Bagian Teknis dan Pemanduan MDKG menyambut kedatangan mahasiswa UAD tersebut.
            Rasa penasaran para mahasiswa itu seolah terjawab ketika Agus dengan sabar menjelaskan sejarah berdirinya museum tersebut. Pertanyaan-pertanyaan antusias mereka pun satu per satu dijawabnya dengan detail.  Agus Pun melanjutkan ceritanya sambil mengjak para mahasiswa masuk ke dalam museum.
            Pada mulanya, rumah gaya Jawa-Eropa klasik tersebut adalah tempat tinggal Ki Hadjar Dewantara. Pada tahun 1958 saat pelaksanaan rapat pamong Tamansiswa, beliau mengusulkan agar tempat tinggalnya kelak dijadikan museum. Keinginan beliau ditanggapi dengan baik, dan dilaksanakan setelah beliau wafat tahun 1959. Sejak 1960, Tamansiswa berusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum. Setelah melalui proses yang cukup panjang, pada tanggal 2 Mei 1970 Museum Tamansiswa diresmikan dan dibuka oleh Nyi Hadjar Dewantara dengan nama “Dewantara Kirti Griya”. Menurut Agus, Kirti mempunyai arti harfiah “kerja”, yang berarti kerja atau jerih payah Ki Hadjar Dewantara. MDKG tentu saja telah melakukan beberapa kali renovasi. Agus menambahkan, sekalipun mengalami berkali-kali renovasi, MDKG termasuk museum memorial, sehingga bentuk fisik dan tata letak perabotan dibuat sama seperti ketika Ki Hadjar Dewantara masih hidup. Terakhir, Agus menambahkan museum mendapatkan bantuan dari Dinas Kebudayaan untuk renovasi, sehingga sudah wangun untuk dikunjungi.

Jumat, 16 Desember 2011

Tugas Scientific Writing CLT



Kunthi Talibrata                   (09004498)                                       Scientific Writing/P
Patria Handung Jaya           (09004503)

COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING: THEORY,
PRACTICE AND PERSONAL EXPERIENCE

What is Communicative Language Teaching?
            We already realized that there are so many methods for teaching English. However, most of them are still centered to the teacher. It doesn’t give benefit for the students because they become passive learners. In 1960, a new method called Communicative Language Teaching was revealed. The origins of Communicative Language Teaching (CLT) are to be found in the change in the British language teaching tradition dating (Richards 2001: 153). Some experts believe that this is the best method for teaching English, because CLT means little more than an integration of grammatical and functional teaching (Richards 2001: 155). It means that CLT not only focuses on grammatical uses and how teacher lecturing, but also focuses on how the students improve their skill and practice directly in four-language skills.
            Before applying CLT in learning process, the teacher should comprehend what CLT is.
Based on Savignon (2002: 7) Communicative language teaching (CLT) refers to both processes and goals in classroom learning. Here, teachers should focus not only on the students’ result, but also the teacher should consider the process how the student achieve the goal of learning process such as by doing discussion, pair work, etc. By this method, the students’ role is more important and the learning process can be student-centered.

CLT in Practice
            It is not easy to apply CLT, because this method consists of four-language skills, so it means that all activities done by teachers should contain all aspects of four-language skills. In his paper “Communicative Language Teaching Today”, Richard states some class activities in CLT, such as task-comletion activities, information gathering activities, opinion-sharing activities, information-transfer activities, reasoning-gaps activities and role play.
            From all activities, role play is considered the most interesting activities. Based on Whitebread (2008) role play is play a part (either their own or somebody else’s) in a specific situation. It becomes interesting, because it contains writing (writing a script), reading (memorizing the script), speaking (delivering the dialogue), and listening (get and understand the point of what other character say). Finally, role play is one of a whole gamut of communicative technique which develop fluency in language students, which promotes interaction in the classroom and which increases motivation (Whitebread; 2008).
            Role play is one of the techniques which emphasize the student to be more active in the learning process. From the explanation above, we can conclude that by using CLT method, the students will be easy to get the learning goal and they can improve more their basic skill in the class. In this method, teachers only facilitate the communication process among the learners in the classroom. It means, we can make the class more focus on student-centered.


Reference

Richard, Jack C & Theodore S. Rodgers. 2001. Approach and Methods in Language Teaching. United Kingdom: Cambridge University Press.

Whitebread, D., and Penny coltman. 2008. Teaching and Learning in The Early Years. Newyork: Routledge Taylor and Francis Group

            http://yalepress.yale.edu/yupbooks/pdf/0300091567.pdf (December 16th 2011)